Puji dan syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yesus Kristus, karena hanya oleh berkat, kasih, dan karunia-Nya saya bisa berdiri di tempat ini, mengenakan jubah wisuda dengan penuh sukacita. Pada tanggal 12 September 2025 lalu, saya resmi mengikuti Wisuda Sarjana ke-70 dan Pascasarjana ke-24 Universitas Kristen Artha Wacana Kupang (UKAW). Hari itu menjadi salah satu momen paling bersejarah dalam hidup saya. Namun lebih dari sekadar pencapaian akademik, hari ini adalah bukti nyata betapa besar kasih setia Tuhan dalam perjalanan saya.

Saya sadar sepenuhnya bahwa pencapaian ini bukanlah hasil dari kekuatan dan kepintaran saya semata. Semua ini adalah karena kasih karunia Tuhan yang melampaui segala keterbatasan saya. Tanpa Dia, saya tidak akan pernah bisa menyelesaikan studi ini.
Selain anugerah Tuhan, ada anugerah terbesar yang selalu saya syukuri: orang tua dan keluarga saya.
Pertama-tama, untuk almarhum Ayah, Semuel Nubatonis. Walaupun Ayah tidak lagi bersama saya secara fisik, saya yakin di surga sana Ayah tersenyum bangga melihat putranya berdiri di sini. Saya selalu mengingat nasihat Ayah: “Jangan pernah menyerah, dan selalu kejar mimpimu.” Kata-kata itu menjadi suluh yang menyala dalam setiap langkah saya. Warisan terbesar dari Ayah adalah semangat dan keteguhan hati. Hari ini, gelar ini saya persembahkan untukmu, Ayah. Terima kasih karena engkau telah mengajarkan arti ketulusan, perjuangan, dan iman yang tidak tergoyahkan.
Kedua, untuk Ibu Juliana Otu. Setelah Ayah pergi, Ibu menjadi sosok paling kuat dalam hidup saya. Ibu tidak hanya berperan sebagai seorang ibu, tetapi juga sekaligus sebagai ayah. Dengan penuh keteguhan, Ibu berjuang seorang diri untuk memastikan pendidikan saya tidak pernah terhenti. Setiap tetes keringat, setiap pengorbanan, dan setiap doa Ibu adalah alasan mengapa saya berdiri di sini hari ini.

Ibu, saya tahu tidak mudah membesarkan saya seorang diri. Namun, kasih dan keteguhan Ibu adalah teladan hidup yang membuat saya tidak pernah menyerah. Doa-doa Ibu adalah perisai yang selalu melindungi saya dari segala kesulitan. Jika hari ini saya berhasil, itu karena Ibu yang tidak pernah lelah berdoa dan berharap. Terima kasih, Ibu. Gelar ini adalah untukmu juga, bukti cinta dan syukur saya yang tidak akan pernah habis.
Perjalanan ini bukan tanpa tantangan. Ada masa di mana saya merasa ragu, bahkan hampir menyerah. Namun, di setiap titik lelah itu, saya menemukan dukungan yang mengalir deras seperti mata air dari orang-orang yang saya kasihi.
Terima kasih untuk kakak dan adik-adik saya yang selalu hadir dengan doa, tawa, dan canda yang meringankan beban. Terima kasih untuk paman, bibi, kakek, nenek, dan seluruh keluarga besar. Saya tidak bisa menyebut satu per satu, tetapi percayalah, setiap doa, setiap sapaan hangat, dan setiap senyuman dari kalian adalah kekuatan tambahan bagi saya.
Dukungan finansial yang kalian berikan sangat berarti, meskipun saya tahu itu seringkali datang dengan pengorbanan besar. Namun lebih dari itu, dukungan moral dan emosional yang kalian berikan jauh lebih berharga. Tanpa pelukan Ibu, nasihat Ayah, serta semangat dari keluarga, saya tidak mungkin bisa sampai sejauh ini.
Hari ini, saya ingin menegaskan bahwa gelar ini bukan hanya milik saya seorang. Gelar ini adalah milik kita semua—milik Ayah, milik Ibu, milik keluarga yang selalu mendukung, serta milik setiap orang yang mendoakan saya.
Namun, saya juga menyadari bahwa wisuda ini bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan justru awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Saya berjanji akan terus berjuang, terus belajar, dan terus bekerja keras agar ilmu yang saya peroleh bisa bermanfaat, bukan hanya bagi diri saya sendiri, tetapi juga bagi keluarga, masyarakat, bahkan bagi bangsa dan negara.
Lebih dari itu, saya ingin menggunakan ilmu ini untuk memuliakan nama Tuhan Yesus Kristus—karena hanya Dialah sumber dari segala hikmat dan keberhasilan.
Akhir kata, dengan hati penuh syukur saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang sudah mendukung saya. Terima kasih Ayah di surga, terima kasih Ibu yang luar biasa, terima kasih keluarga yang selalu ada, dan terima kasih kepada Tuhan Yesus Kristus yang tidak pernah meninggalkan saya.
Semoga wisuda ini bukan hanya menjadi kebanggaan, tetapi juga menjadi berkat. Biarlah hidup saya menjadi bukti nyata dari kasih dan kebaikan Tuhan.
*Oleh: Soleman Buraen, dari Rumah Pendidikan

Beri Komentar