Perjuangan dalam menyalakan semangat pendidikan di wilayah Amfoang Utara terus berjalan. Salah satunya tercermin dari semangat perjuangan yang dilakukan Kepala SMP Negeri 1 Amfoang Utara, Soleman Buraen,S.Pd. Secara administratif sekolah ini berada di wilayah Amfoang Utara, Kabupaten Kupang. Lokasinya yang lebih dekat ke Sungai/Kali Kolabe membuat sekolah ini setiap tahun menjadi langganan banjir.
Saat banjir datang, proses pembelajaran tetap berjalan seperti biasa. Namun, kalau ada siswa yang tidak masuk sekolah sampai tiga hari, para guru akan datang ke rumah untuk memastikan bahwa peserta didik dalam kondisi baik.
“Memimpin sekolah ini adalah sebuah tantangan besar. Kondisi geografis tentunya sangat mempengaruhi aktivitas belajar mengajar,” ungkapnya mengawali perbincangan.

Soleman Buraen, Kepala SMPN 1 Amfoang Utara.
Tantangan lain yang dirasakan Soleman Buraen adalah keterbatasan ruang kelas. “Rombongan belajar (rombel) ada 14, sedangkan ketersediaan kelas hanya 8. Kalau minta bantuan Ruang Kelas Baru (RKB), meskipun dalam kondisi kurang, masalahnya sekolah kami tidak berada di daerah 3T, karena masuk daerah kota Kelurahan Naikliu,” jelas dia.
Buraen adalah seorang Guru bahasa Inggris yang sudah mengabdi selama 16 tahun. Sekolah di Amfoang Utara yang pernah menjadi tempatnya mengajar di SMP Negeri 2 Amfoang Utara. Baru di tahun 2017, ia diangkat menjadi kepala sekolah di SMP Negeri 4 Amfoang Barat Daya hingga 2022, dan Tahun 2022 dimutasikan ke SMP Negeri 1 Amfoang Utara sampai sekarang.
“Saya diangkat jadi kepala sekolah sebelum ada penguatan Kepala Sekolah dan ada penguatan kepala Sekolah 7/10/2019 -13/10/2019 dan belum ada program Pendidikan Guru Penggerak (PGP) ,” ujar Buraen yang pernah mengikuti program Calon Guru Penggerak angkatan 9 tapi tidak lolos saat pengisian esay.
Ternyata, pengalaman dan wawasan yang didapatkannya selama kepala Sekolah, menjadi bekal untuk menghadapi berbagai tantangan di sekolah yang dipimpinnya itu. Banyak kendala menjadi seorang kepala Sekolah tapi dirinya mengakui selalu bekerja sama dengan teman-teman guru yang membantu menjalankan proses pembelajaran dengan lebih baik.
Buraen mengaku bahwa sebelumnya ia cenderung pemarah namun selama menjadi kepala sekolah ia dapat mengatasi dan tahu bagaimana cara menjaga emosi. Oleh sebab itu, mengingat banyaknya tantangan yang harus ia hadapi, Buraen mengaku butuh kerja sama yang kuat antarseluruh warga pendidikan untuk memajukan sekolah.
Ia juga belajar bagaimana cara bersikap dalam mengajar dan mengambil keputusan sebagai kepala sekolah. “Itu sebabnya, sebagai Kepala Sekolah harus mampu menghadapi tantangan baik itu guru, kependidikan dan juga siswa-siswi (kolabosi) itu sangat penting bagi kepala sekolah,” tegasnya.
Pentingnya Konsistensi dalam Menjalankan Tahapan Peningkatan Mutu Pembelajaran
Buraen menyadari bahwa perubahan yang Ia bangun harus dilakukan secara bertahap dan konsisten. Terlebih melihat berbagai tantangan yang ia hadapi, seperti SDM siswa.
“Kami masih kekurangan ruang belajar 3, ruang lab komputer 2, WC siswa, Lapangan Bola volly, dan lapangan futzal. Ditambah lagi, jumlah siswa per kelas paling banyak 30, dan jumlah keseluruhan 331 orang,” ungkapnya.
Buraen juga menyampaikan, tidak semua siswa yang memiliki motivasi untuk belajar sehingga dukungan orang tua dan lingkungan sangat dibutuhkan.
Situasi yang harus dihadapinya sebagai kepala sekolah ini membuatnya berkeyakinan bahwa pihak pertama yang harus diubah terlebih dahulu adalah guru sebagai motor perubahan. Untuk itu, dalam berbagai kesempatan, ia selalu menanamkan bahwa guru harus mengubah pola pikir, membangun budaya positif, dan dapat mengelola emosi dengan baik yaitu kesabaran menghadapi siswa-siswa kita untuk merubah mereka dari nol menjadi anak yang cerdas/sukses kedepan.
Buraen meyakini, jika sudah ada perubahan pada guru (emosi perlu dikontrol), maka peserta didik akan mendapatkan pengalaman belajar yang lebih baik. Sejauh ini, bersama para guru ia mencoba menerapkan pembinaan berdasarkan hasil asesmen diagnostik. Jadi, ketika ada siswa yang datang terlambat atau tidak masuk sekolah, pihaknya tidak langsung memberi sanksi melainkan diberi pembinaan terlebih dulu.
“Kini, setiap akhir bulan kami namakan akhir bulan Ceria. Di bulan itu, anak-anak menuangkan dan menceritakan apa saja yang mereka baca selama satu bulan,” tutur Buraen yang juga memberi kebebasan peserta didiknya untuk belajar di luar kelas.
Perubahan lain yang dilakukan adalah memastikan agar Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dapat dijalankan dengan baik. Salah satunya adalah dengan membuat sebuah koperasi siswa. Tak hanya itu, Ia juga berencana untuk membuat kesepakatan dengan komunitas Rumah Kreatif di SMP Negeri 1 Amfoang Utara untuk memanfaatkan barang-barang bekas/kertas-hasil ujian yang sudah buang disampah.
Kepala Sekolah Membuka Peluang bagi Guru Menciptakan Terobosan untuk Lebih Dekat dengan Siswa
Menyadari bahwa guru adalah motor pembelajaran, terobosan lain yang dilakukan Buraen adalah mendekatkan guru dengan peserta didik. Sebelum diangkat sebagai kepala sekolah, Buraen mempunyai ide bahwa seorang wali kelas sebaiknya dapat mendampingi siswa dalam proses pembelajaran hingga tamat. “Jadi, konsepnya, setiap murid di suatu kelas memiliki wali kelas yang sama sampai tamat sekolah,” katanya.
Pada mulanya, ide tersebut butuh penyesuaian, terutama bagi sesama guru. Kemudian, sedikit demi sedikit, para guru mulai terbiasa. Buraen juga melakukan refleksi bersama dan melakukan review atas apa yang sudah dijalankan.
“Respons teman-teman sangat positif,” ungkapnya senang.
Buraen yakin, ketika seorang wali kelas mengikuti siswanya ke kelas, selanjutnya maka dapat terbentuk kedekatan antara guru dengan siswa. Dengan begitu, siswa tidak segan mengungkapkan permasalahan dirinya kepada guru tersebut. Sebaliknya, guru pun lebih tahu secara mendalam perihal perkembangan muridnya. Namun, sejak lama gagasan tersebut sekian lama tersimpan di pikirannya saja.
“Sebagai guru biasa saya tidak bisa membuat kebijakan seperti itu. Namun, ketika sudah menjadi kepala sekolah, gagasan itu baru bisa diwujudkannya. Ini bisa terjadi tak lain karena Kepala Sekolah memberikan kesempatan bagi Guru untuk mengembangkan karir dan menerapkan berbagai terobosan,” jelasnya.
Kepala Sekolah Dorong Terciptanya Berbagai Kolaborasi
Hal lain yang coba diterapkan Buraen dari pengalamannya sebagai kepala adalah membangun kolaborasi dengan banyak pihak guna meningkatkan mutu pembelajaran sekolahnya sendiri maupun sekolah lain di sekitarnya.
Sejauh ini, Buraen merupakan satu-satunya kepala sekolah dari SMP Negeri 1 Amfoang Utara yang memiliki sertifikat Penguatan Kepala Sekolah. Oleh karena itu, ada tanggung jawab baginya untuk memotivasi rekan-rekan di sekolah lain agar tidak terpaku di zona nyaman.
Meskipun ia menyadari bahwa tidak semua orang bisa menerima perubahan dan ajakan untuk berubah. Oleh karena itu, ia sangat bersyukur karena Kemendikbudristek menyediakan Platform Merdeka Mengajar (PMM) sebagai inspirasi untuk saling berbagi model pembelajaran dan memulai langkah perubahan.
(Tim Humas Sekolah)

Beri Komentar