Amfoang, 22 Juni 2025 menjadi saksi bisu dari sebuah perjalanan penuh makna: bukan sekadar perpindahan lokasi dari Amfoang ke Kupang, melainkan sebuah pengalaman hidup yang menyadarkan bahwa menyertakan Tuhan dalam setiap langkah adalah kunci keselamatan dan ketabahan.
Dengan hanya mengandalkan motor Supra X 125, saya memulai perjalanan pagi itu dari Amfoang. Tak ada jalan beraspal mulus seperti di kota besar. Yang ada hanyalah jalan tanah berbatu, bukit terjal, dan lembah sunyi. Namun semangat tetap menyala, sebab saya tahu, Tuhan menyertai saya dalam setiap detik perjalanan ini.

Masuk hutan—keluar hutan. Tak cukup sekali, tapi berkali-kali. Sunyi menyelimuti, hanya suara angin dan desiran dedaunan yang menemani. Kadang saya merasa sendiri, tapi dalam hati saya tahu: saya tidak pernah benar-benar sendiri. Di tengah derasnya nafas dan gemetar tangan yang menggenggam stang, saya berkata dalam hati: “Tuhan, jangan biarkan aku lepas dari pandangan-Mu.”
Setelah hutan, saya melewati pemukiman. Lalu keluar lagi, kembali masuk ke hutan, seakan-akan ujian belum selesai. Tanjakan curam dan turunan licin menjadi menu wajib. Motor Supra X 125 ini seperti rekan setia, meski tua, ia tetap kuat membawa saya maju, melewati berbagai rintangan.
Kemudian datanglah tantangan berikutnya: menyeberangi kali—tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Airnya deras, bebatuan tajam, dan dasar licin menjadi ancaman tersendiri. Namun setiap kali saya ragu, saya kembali berdoa, memohon perlindungan. Dan setiap kali itu pula, langkah saya tak pernah ditinggalkan oleh tangan Tuhan.
Perjalanan itu bukan hanya perjalanan fisik. Itu adalah ziarah jiwa, yang mengajarkan bahwa tanpa penyertaan Tuhan, manusia hanyalah debu yang mudah hilang tertiup badai. Saya bisa saja menyerah, bisa saja terjatuh dan tidak melanjutkan, tapi karena Tuhan, saya tetap berdiri. Karena iman, saya terus melangkah.
Saat roda motor akhirnya menyentuh jalan raya mendekati Kupang, hati ini penuh syukur. Bukan karena berhasil sampai, tapi karena Tuhan tidak pernah meninggalkan saya, bahkan di tengah medan terberat sekalipun.
Perjalanan ini mengajarkan satu hal yang tak terbantahkan:
“Kalau Tuhan ada di depanmu, tak ada hutan yang terlalu lebat, tak ada sungai yang terlalu deras, dan tak ada jalan yang terlalu berat.”
Oleh: Soleman Buraen

Beri Komentar