
Ilustrasi kecemasan matematika
Kecemasan yang berasal dari kata dasar cemas yang menurut KBBI berarti tidak tentram hati; gelisah. Sedangkan menurut psikiater Gabriela Bezerra de Menezes, seorang peneliti di Universitas Federal Rio de Janeiro (UFRJ) dalam BBC News Indonesia edisi 11 Februari 2022, kecemasan adalah perasaan tidak nyaman yang menjalar ke seluruh tubuh, perasaan khawatir yang tidak menyenangkan dan kerap disertai dengan ketegangan, antisipasi skenario berbahaya – seringkali tidak realistis – serta berbagai bentuk manifestasi fisik.
Sedangkan menurut Tobias (Wahyudin,2010:7) seperti yang dimuat dalam Jurnal ilmiah program studi matematika STKIP Siliwangi Bandung Vol. 3 No. 1, Februari 2014 yang ditulis oleh Ika Wahyu Anita mengatakan bahwa kecemasan matematika sebagai perasaan-perasaan tegang dan cemas yang mencampuri manipulasi bilangan-bilangan dan pemecahan masalah matematis dalam beragam situasi kehidupan sehari-hari dan situasi akademik. Lebih lanjut, Ika Wahyu Anita mengatakan bahwa siswa yang mengalami kecemasan terhadap matematika merasa bahwa dirinya tidak mampu, tidak bisa mempelajari materi matematika dan mengerjakn soal-soal matematika.
Berdasarkan hasil penelitian yang pernah dilakukan terhadap siswa SMP oleh Ika Wahyu Anita, penyebab kecemasan matematika dikategorikan dalam 3 faktor, yaitu 1)faktor kepribadian (psikologis atau emosional), misalnya perasaan takut siswa akan kemammpuan yang dimiliki, rasa percaya diri yang rendah, motivasi diri yang rendah, atau punya trauma yang buruk di masa lalu; 2)faktor lingkungan atau sosial, misalnya kondisi belajar matematika yang tegang, guru yang menakutkan, dan juga rasa takut dan cemas terhadap matematika serta kurangnya pemahaman guru dalam mengelola kelas, tekanan orang tua yang memaksakan agar anak pintar matematika; 3)faktor intelektual yang terdiri atas pengaruh kognitif.
Berdasarkan daftar pertanyaan yang disusun oleh Profesor Freedman yang digunakan untuk mengidetifikasikan tingkat kecemasan matematika (Freedman,2012) yang dimuat dalam Achemadfaroeqs’s blog edisi tanggal 15 November 2012 dapat ditentukan beberapa ciri kecemasan matematika yaitu: adanya rasa takut terhadap matematika, adanya anggapan bahwa matematika itu menyulitkan (selalu berprasangka negative), adanya rasa tegang saat belajar matematika, adanya rasa takut tidak bisa mnegerjakan soal matematika, adanya rasa takut dan malu tidak bisa menjawab pertanyaan guru saat belajar matematik, adanya rasa tidak percaya diri belajar matematika dan sering lupa terhadap konsep matematika. Sedangkan menurut Dacey (2000) seperti yang termuat dalam artikel yang ditulis oleh Dimas Ramadan, gejala kecemasan bisa dikenali dari komponen psikologis, berupa kegelisahan, gugup, tegang, cemas, rasa tidak aman, takut, cepat terkejut ketika menghadapi persoalan matematika; komponen fisiologis, berupa jantung berdebar, keringat dingin pada telapak tangan, tekanan darah meninggi, adanya gerakan berulang tanpa disadari; komponen sosial, sebuah perilaku yang ditunjukkan oleh individu di laingkungannya. Perilaku itu dapat berupa tingkah laku (sikap) dan gangguan tidur.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ika Wahyu Anita tentang pengaruh kecemasan matematika terhadap kemampuan koneksi matematis siswa SMP menyimpulkan bahwa setiap peningkatan skor kecemasan matematika berupa kecemasan terhadap matematika, kecemasan terhadap ujian matematika dan kecemasan terhadap perhitungan numerikal mengakibatkan menurunnya skor kemampuan koneksimatematis siswa dan sebaliknya. Lebih lanjut dikatakan bahwa faktor kecemasan terhadap pembelajaran matematika memberikan kontribusi paling tinggi terhadap kemampuan koneksi matematis.
Seperti yang ditulis dalam artikelnya Dimas Ramadan (Mei 2019), beberapa penelitian telah dilakukan oleh para ahli untuk mengatasi kecemasan khususnya kecemasan matematika (University of Chicago) mnenemukan hubungan yang kuat antara keberhasilan dalam mengerjakan soal matematika dalam aktivitas dalam jaringan area otak di lobus frontal da parietal yang terlibat dalam mengontrol perhatian dan mengatur reaksi emosional negatif. Respon ini muncul ketika orang kesulitan dalam memcahkan masalah matematika. Dimas Ramadan mengemukan ada beberapa hal yang dapat meminimalkan kecemasan matematika, yaitu: 1) memberikan penjelasan rasional paad siswanya mengapa mereka harus belajar matematika; 2) menanamkan rasa percaya diri terhadap siswa bahwa bahwa mereka bisa belajar matematika, guru dapat memberikan Latihan-latihan soal yang relative mudah sehingga mereka bisa mengerjakan soal-soal tersebut; 3) menghilangkan prasangka negative terhadap matematika, dengan cara memberikan contoh-contoh yang sederhana sampai dengan yang kompleks tentang kegunaan matematika; 4) membelajarkan matematika dengan berbagai metode yang bisa mengakomodir berbagai model belajar siswa: 5) tidak mengutamakan hafalan dalam pembelajaran matematika: 6) pada saat pembelajaran matematika, jadikan kelas matematika menjadi kelas yang menyenangkan dan nyaman; 7) pada saat bertemu dengan siswa di manapun, jangan segan-segan untuk menyisipkan pembicaraan yang menyangkut tentang pembelajaran matematika kepada mereka; 8) menanamkan rasa tanggung jawab kepada siswa untuk memutuskan kesuksesan mereka.
Oleh: Christiana Riwu Kana
Daftar Pustaka
Anita, W.I. 2014. Pengaruh Kecemasan Matematika Terhadap Kemampuan Koneksi Matematis Siswa SMP. Jurnal Ilmiah Program Studi Matematika STKIP, Vol.3 No.1
Ramadan, Dimas. 2019. Kecemasan Siswa Dalam Belajar Matematika
Apa itu ‘anxiety’, apa saja gejalanya, dan apa bedanya dengan depresi? – BBC News Indonesia
Kecemasan Matematika (math anxiety) | Achemadfaroeqs’s Blog (wordpress.com)

Beri Komentar