Saya melihat mereka di perempatan lampu merah di Kota Kupang, di antara keramaian kendaraan dan klakson yang bersahutan. Mereka berjalan menyebrangi jalur zebra cross, mereka membawa setumpukan koran, juga kantong kresek berisikan jagung goreng, jagung rebus, keripik pisang. Disodorkan kepada pengemudi mobil dan motor yang berhenti.
Mereka berteriak, koran, keripik pisang, jagung rebus, jagung goreng. Dengan raut wajah penuh dengan keringat yang gembira memperjuangkan hidup mereka, untuk bertahan hidup bersama orang tua.
Seharunya mereka masih belia, mungkin sepantaran anak-anak yang seharusnya sedang bermain di halaman rumah atau belajar di sekolah bersama teman-teman.
Di sudut perempatan itu terlihat seorang bocah perempuan berdiri dengan langkah kecil yang penuh ragu, matanya menatap kosong ke arah setiap kendaraan yang melintas. Sementara tangannya erat menggenggam beberapa lembar koran. Sesekali, ia tersenyum kecil saat ada yang membeli dagangannya, kemudian ia menunduk mengmbil koran, seolah -olah menyimpan beban yang tak seharusnya ditanggung anak seumurnya.
Tapi mengapa mereka ada di sini? Mengapa tangan-tangan kecil itu tidak sedang memegang pensil atau buku tetapi menjajakan dagangannya kepada para pengendara yang terburu-buru?
Tapi memang hidup ini tidak selalu memberi pilihan yang adil, mungkin bagi mereka sekolah adalah kemewahan, semesntara bekerja adalah keharusan, dan mungkin di rumah ada adik kecil yang harus diberi makan atau orang tua yang sudah tidak mampu bekerja.
Senja perlahan-lahan turun mewarnai langit dengan cahaya kemerahan dan jingga lampu-lampu kendaraan mulai menyala, menciptakan bayangan panjang di aspal yang mulai lembab oleh udara malam sementara anak-anak masih di sana, melangkah ringan tetapi penuh kelelahan.
Di mata mereka tak kutemukan kepasrahan. Ada nyala kecil yang bertahan, ada harapan yang tak padam. Mungkin mereka bermimpi suatu saat nanti bisa duduk di bangku sekolah tanpa harus khawatir tentang penghasilan harian mereka, mungkin mereka ingin mngubah nasib sendiri tetapi juga untuk keluarga mereka.
Jadi mereka mengajari saya tentang keteguhan, tentang bagaimana manusia bisa tetap berusaha meski keadaan tidak berpihak kepada mereka. Saya berharap mereka bisa mengubah masa depan yang lebih baik. Dan mungkinkah kita seperti mereka? Mungkin kita bisa menjadi bagian dari harapan mereka, itu bukan hanya rasa iba, tetapi dengan langkah nyata untuk membantu mereka mendapatkan hak yang seharusnya mereka miliki, yakni pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang dapat mengubah hidup mereka.
(Oleh: Soleman Buraen, Kepala UPTD SMPN 1 Amfoang Utara)

Beri Komentar