Senin, 06-04-2026
  • SMPN 1 Amfoang Utara, Sekolah untuk Membentuk Karakter Pancasila.

Kisah Perjuangan dan Pengabdian Soleman Buraen

Diterbitkan : - Kategori : Berita Pendidikan / Cerita Pendek

Soleman Buraen, S.Pd lahir di desa Enoraen (Noenak), Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur pada tanggal 22 November 1974. Ia merupakan anak pertama dari lima bersaudara, buah kasih dari pasangan Almarhum Oktovianus Buraen yang pulang ke pangkuan Tuhan pada tahun 2008 dan Almarhuma Enggelina Taneo yang lebih dahulu meninggalkan keluarga pada tahun 1992. Sebagai anak sulung, ia memikul tanggung jawab besar sejak kecil, terlebih setelah kepergian ibunda yang tercinta.

Perjalanan pendidikannya dimulai dari SD Inpres Noenak pada tahun 1982 dan ia menyelesaikan pendidikan dasar tersebut pada tahun 1989. Kegigihannya untuk terus belajar membawanya melanjutkan pendidikan ke SMP Kristen Oekabiti,tinggal dengan bapa Paulus Galla  sayan memanfaatkan waktu untuk belajaran dari  tahun 1989–1992. Tamat SMP, ia kemudian menempuh pendidikan menengah atas di SMA Negeri 1 Kupang Timur (Oesao) pada tahun 1992–1995.

Namun, kenyataan hidup tidak selalu mudah. Setelah tamat SMA, keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi terhambat oleh kondisi ekonomi keluarga yang sangat terbatas. Ia sempat berada di titik bingung, antara harapan dan realita yang tidak bersahabat.

Sampai akhirnya, sebuah peristiwa kecil tetapi mengubah nasib terjadi. Seorang sahabat bernama Jefri M. Talas (Almarhum) mengajak Soleman untuk mendaftar di salah satu perguruan tinggi swasta ternama di Kota Kupang, yaitu Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang yang berlokasi di Oesapa. Awalnya hanyalah sekadar ikut-ikutan, namun ternyata Tuhan telah menyiapkan jalan lain. Ia memilih dua program studi: Pendidikan Bahasa dan Seni serta Pendidikan Agama Kristen. Hasil ujian menentukan bahwa ia lulus pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Seni bersama hanya 20 orang mahasiswa terpilih.

Biaya kuliah pada saat itu sangat rendah bila dibandingkan masa kini SPP hanya Rp 250.000 dan biaya SKS Rp 2.500. Namun tetap saja, bagi keluarganya jumlah itu berat. Walaupun sering mengalami kesulitan biaya kuliah dan kehidupan mahasiswa serba sederhana, ia memilih bertahan.

Dengan kerja keras, tekad kuat, dan keyakinan bahwa masa depan dapat diubah melalui pendidikan, akhirnya ia berhasil menamatkan studinya pada tahun 2001. Gelar sarjana pendidikan menjadi bukti nyata bahwa perjuangan dan doa tidak pernah sia-sia.

Awal Karier: Mengabdi Melalui Pendidikan

Tahun 2001 menjadi awal perjalanan profesinya. Ia mengikuti tes di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yaitu Yayasan Purnama Kasih dan dinyatakan lulus sebagai pegawai. Ia bekerja sejak Januari 2002 hingga Juni 2003. Pengalaman tersebut membentuk dirinya dalam dunia sosial dan pelayanan masyarakat.

Namun panggilan hati untuk menjadi pendidik jauh lebih kuat. Pada Mei 2003, ia kembali mengikuti tes sebagai Guru Bantu dan kembali dinyatakan lulus. Ia ditempatkan di wilayah Amfoang Utara, tepatnya di SMP Negeri 3 Amfoang Utara yang kini telah berubah nomenklatur menjadi UPTD SMP Negeri 2 Amfoang Utara, di Kampung Bakuin RT.002/RW.001.

Dari tempat terpencil itulah pengabdian panjangnya dimulai. Selama 14 tahun (2003–2017), ia mendidik dan membimbing peserta didik dengan sepenuh hati—tanpa mengeluh, meski fasilitas minim dan medan geografis menantang. Ia percaya, setiap anak berhak atas pendidikan yang layak meski berada di batas negeri.

Meningkat Menjadi Pemimpin: Tugas Baru, Tantangan Baru

Pada suatu hari di tahun 2017, sebuah kabar datang tanpa pernah diduga. Melalui telepon dari Ibu Kabid Disdik Kabupaten Kupang, ia diminta bersedia diangkat menjadi Kepala Sekolah SMP Negeri 4 Amfoang Barat Daya. Ia sempat diam, merenung dalam lima menit yang begitu panjang. Dengan berdiskusi singkat dengan sang istri, akhirnya ia menjawab mantap: “Ya, saya terima.”

Ia kemudian menerima SK Bupati Kupang No: 821.21/03/BKPP.KAB.KPG/2017 tanggal 18 April 2017 dan resmi dilantik pada 11 April 2017.

Menjadi pemimpin bukan perkara mudah. Ketika mulai bertugas, sekolah yang ia pimpin masih dalam kondisi sangat darurat serba terbatas dan tertinggal. Namun ia tidak mundur. Ia menarik napas panjang dan berkata dalam hati“Menjadi pemimpin tidak seperti membalik telapak tangan. Ada susah, ada senang. Semuanya harus dijalani karena itu adalah tanggung jawab moral terhadap guru, pegawai, peserta didik dan orang tua.”Ia memimpin hingga tahun 2022 dengan segala tantangan dan keberhasilan yang diraih bersama.

Tanpa kabar, tanpa bisikan angin, pada 24 Mei 2022 ia menerima undangan untuk mengikuti pelantikan sebagai Kepala Sekolah UPTD SMP Negeri 1 Amfoang Utara. Ia dilantik pada 27 Mei 2022 dengan SK Bupati Kupang No: 821.07/01/BKPSDM.KAB.KPG/2022 tanggal 31 Mei 2022.

Pada 15 Juli 2022, ia resmi bertugas di sekolah tersebut hingga sekarang.Jabatan itu bukanlah mimpi yang pernah ia rancang. Ia berkata dengan kerendahan hati“Saya tidak pernah bermimpi menjadi pemimpin. Tapi apa boleh buat, tai kambing bulat-bulat—tetap semangat jalani proses.”Ungkapan sederhana itu mengandung keteguhan luar biasa—bahwa hidup harus terus disyukuri, dijalani, dan diperjuangkan tanpa menyerah.Perjalanan hidup Soleman Buraen, S.Pd adalah gambaran nyata bahwa:

  1. Keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk bermimpi,
  1. Pendidikan adalah jalan menuju perubahan,
  2. Pengabdian di pelosok negeri adalah panggilan mulia,
  3. Kepemimpinan lahir dari proses panjang, bukan dari ambisi.

Dari desa kecil di Amarasi Timur, ia kini memimpin salah satu sekolah penting di Amfoang Utara. Perjuangannya adalah inspirasi bagi generasi yang sedang berjuang meraih masa depan.

Ia bukan hanya seorang kepala sekolah ia adalah seorang pendidik yang hidup untuk membangun harapan. Karena ia percaya“Setiap anak bangsa memiliki masa depan; tugas guru adalah membantu mereka menemukannya.”

 

 

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan