Tahun 1995.
Itu tahun yang tidak akan pernah hilang dari ingatan Arwadi Nenotek. Saat itu, dunia belum semaju sekarang. Tidak ada HP, tidak ada internet, bahkan untuk mengetik tugas saja harus menggunakan mesin ketik sepuluh jari yang bunyinya “tek-tek-tek” setiap malam di kamar kos. Semua tugas dikerjakan dengan tangan, penuh coretan, dan tinta yang sering kali meleber di kertas. Tapi dari situ, perjuangan dan ketulusan belajar sungguh terasa.
Setiap pagi, Arwadi berjalan kaki ke kampus bersama teman-teman. Kadang panas terik, kadang hujan mengguyur, tapi langkah-langkah mereka tetap semangat. Di jalan Komodo, ada tempat fotokopi langganan milik Om John. Di sanalah mahasiswa antri untuk memperbanyak diktat, makalah, atau bahan kuliah dari dosen. Kadang uang tidak cukup untuk fotokopi semua bahan, maka Arwadi sering memilih tidak ikut kuliah hari itu — bukan karena malas, tapi karena isi dompet memang tidak bersahabat.
Pernah suatu hari, waktu Kim sedang mengajar di kelas, tiba-tiba teman-teman mengajaknya pergi ke kos untuk rebus mie dan makan bersama. Akhirnya, kuliah hari itu batal! Tapi justru dari kejadian sederhana itu, Arwadi belajar bahwa kuliah bukan hanya tentang buku dan tugas, tapi tentang persaudaraan, tawa, dan semangat bertahan walau hidup sonde gampang.
Tulisan tangan Arwadi waktu itu sering dibilang paling jelek. Om Agus Seo (alm.) pernah berkata sambil tertawa, “Ini apa, bro?” Tapi di balik tulisan yang berantakan itu, ada niat yang tulus untuk belajar. Kamus John M. Echols jadi teman setia ke mana-mana. Kadang diselipkan di dada baju supaya orang tahu, “ini anak bahasa Inggris, dong pintar-pintar!” Sementara Yus, teman karibnya, punya kamus Oxford kecil yang selalu disimpan di saku celana — bukti keseriusan mereka meski sederhana.
Laurensius masih ingat, setiap kali kuliah sore, pasti mereka singgah dulu di kos Arwadi atau di tempat almarhum Agustinus Keo. Makan seadanya — kadang hanya nasi dengan mie atau telur — tapi tawa mereka mengisi makan siang. Semua dijalani dengan ringan hati, karena satu hal: semangat untuk tetap kuliah.
Ada satu kisah yang selalu membekas di hati Arwadi. Saat ujian semester tiba, ia belum bisa ikut karena belum membayar SPP. Ibu Binti, salah satu dosen, menyuruhnya menunggu di luar ruang kuliah. Dengan hati sedih, ia duduk diam, pasrah. Tidak lama kemudian, datanglah Pak Efraim Leneng. Ia bertanya, “Kakak kenapa sonde ikut ujian ju?” Arwadi menjawab pelan, “Beta belum bayar SPP.”
Tanpa banyak bicara, Pak Efraim masuk ke ruang ujian. Dua puluh menit kemudian ia keluar, mengajak Arwadi ke kos-kosannya di belakang kampus. Di sana, ia memanggil beberapa anak kos, menagih uang sewa, lalu menyerahkan uang itu ke Arwadi. “Cepat pi regis, masuk ujian sekarang sa!” katanya. Saat itulah Arwadi menahan air mata. Dari peristiwa itu ia belajar arti kebaikan, solidaritas, dan hati yang tulus tanpa pamrih.
Cerita lain datang dari Laurensius dan Longginus Ola. Mereka masih ingat betul masa-masa minum bersama Pak Efraim Leneng di pantai Oesapa, sambil bercanda dan menyanyikan lagu-lagu masa muda. Mereka juga sering mengenang para dosen asing seperti Miss Margareth dari Australia, Miss Helena Russel, Rossy, Mr. Matthew Cutler, dan tentu saja opa Kim — sosok-sosok yang menjadi bagian penting dari perjalanan mereka sebagai mahasiswa.
Kini, bertahun-tahun berlalu, ketika Arwadi mengenang semua itu, hatinya terasa campur aduk. Ada rindu, ada lucu, ada haru. Hidup waktu itu memang tidak mudah, tapi mereka kuat karena saling menopang. Mereka belajar bukan hanya dari buku, tapi dari kehidupan — dari kesederhanaan, dari tawa, dari persahabatan yang tulus.
Arwadi bilang, “Kuliah tahun 1995 itu bukan cuma soal pelajaran, tapi tentang persahabatan, tawa, dan bagaimana bertahan dengan hati yang tetap tulus.”
Itulah masa di mana kesederhanaan menjadi indah, di mana perjuangan kecil punya makna yang besar.
Laurensius menambahkan, angkatan mereka adalah yang paling kompak. Hampir semua datang dari keluarga pas-pasan, tapi mereka punya tekad baja untuk menyelesaikan kuliah.
Dan Soleman berkata dengan penuh syukur, “Semua itu karena kebaikan Tuhan Yang Maha Esa. Doa, pergumulan orang tua, dan dukungan sahabat membuat kita bisa berhasil — walau ada yang lebih dahulu, ada yang kemudian, tapi semua tetap dalam kasih dan rencana Tuhan.”
Maka, kisah Arwadi Nenotek bukan sekadar nostalgia masa kuliah.
Ia adalah pengingat bahwa kesederhanaan, perjuangan, dan kebersamaan adalah pondasi yang membentuk siapa kita hari ini. Tahun 1995 mungkin sudah jauh berlalu, tapi semangat itu — semangat mahasiswa yang bertahan dalam keterbatasan — tetap hidup dalam setiap langkah mereka yang pernah berjuang di masa itu.
Oleh: Soleman Buraen, Rumah Pendidikan

Beri Komentar