Sejak dulu, orang tua kita sering mengajarkan bahwa tubuh manusia tidak hanya berfungsi sebagai wadah kehidupan, tetapi juga sebagai media isyarat atau firasat. Setiap getaran, rasa, atau kejadian kecil yang muncul di tubuh sering dipercaya memiliki makna tersendiri. Begitu pula dengan apa yang saya alami selama ini. Berulang kali, saya merasakan tanda-tanda firasat yang terjadi pada tubuhku, dan ternyata banyak di antaranya benar-benar terbukti dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama, telapak tangan yang tiba-tiba terasa gatal. Hampir setiap kali ini terjadi, tidak lama kemudian saya menerima rejeki berupa uang, baik dalam bentuk pemberian, pembayaran, maupun keberuntungan tak terduga. Gatal di telapak tangan bagi saya bukan sekadar rasa biasa, melainkan pertanda datangnya berkat.
Kedua, telinga berdengung. Awalnya saya mengira ini hanya gangguan kecil, tetapi semakin sering terjadi, saya menyadari bahwa telinga berdengung selalu datang ketika ada seseorang yang membutuhkan saya. Kadang orang tua, saudara, sahabat, atau bahkan teman yang sudah lama tidak berhubungan tiba-tiba menghubungi. Dengungan itu menjadi semacam panggilan batin, tanda bahwa saya perlu hadir untuk orang lain.
Ketiga, bulu mata yang jatuh. Momen sederhana ini kerap saya anggap biasa, namun ternyata punya makna mendalam. Bulu mata yang jatuh menandakan ada orang yang sedang merindukan saya. Entah itu keluarga, sahabat, atau orang terdekat lainnya. Kadang bulu mata jatuh menjadi pengingat bahwa ada hati yang diam-diam mengingat saya dari kejauhan.
Keempat, lidah tergigit saat makan. Bagi sebagian orang ini dianggap kurang hati-hati, tapi bagi saya ini firasat bahwa ada orang yang sedang membicarakan saya. Entah dengan nada positif atau negatif, namun lidah yang tergigit adalah tanda kuat bahwa nama saya sedang disebut-sebut.
Selanjutnya, firasat juga sering muncul lewat kedutan/kedipan pada mata. Jika mata kanan yang bergetar, saya meyakini itu pertanda keberuntungan sedang mendekat. Ada kabar baik, peluang, atau kebahagiaan yang datang tanpa diduga. Namun bila yang bergetar adalah mata kiri, maka sebaliknya: biasanya ada kesedihan atau kesialan yang harus saya hadapi. Firasat ini mengajarkan saya untuk selalu waspada dan siap menghadapi kenyataan.
Selain itu, bersin satu kali juga menyimpan makna. Menurut keyakinan yang saya pegang, bersin satu kali menjadi tanda bahwa ada orang yang sedang membicarakan saya. Karena itu, bila bersin hanya sekali, saya berusaha memaksa bersin kedua kalinya. Konon, dengan begitu orang yang membicarakan saya akan berhenti melanjutkan perkataannya. Namun bila bersin terjadi berkali-kali secara terus-menerus, itu bukan firasat, melainkan kondisi fisik semata.
Dan yang terakhir, gatal di ketiak. Ini adalah firasat yang paling unik. Setiap kali gatal muncul tanpa sebab yang jelas, saya percaya ada makhluk halus yang sedang mengikuti saya. Bukan sekadar menakut-nakuti, tetapi seolah menjadi tanda bahwa dunia gaib itu nyata dan sesekali bersinggungan dengan kehidupan kita.
Semua pengalaman firasat ini memang bisa diperdebatkan, ada yang percaya, ada pula yang menganggapnya kebetulan belaka. Namun bagi saya, firasat-firasat tubuh ini adalah bagian dari perjalanan hidup yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Tubuh kita ternyata mampu memberi isyarat dan pesan tersembunyi yang bisa menjadi pengingat, peringatan, bahkan penghiburan.
Apakah ini semua benar? Saya tidak memaksa siapa pun untuk mempercayainya. Tetapi, jika kalian juga pernah mengalami hal-hal serupa, cobalah perhatikan lebih dalam. Mungkin saja tubuh kita memang memiliki bahasa rahasia yang bisa menghubungkan kita dengan orang lain, bahkan dengan hal-hal yang tak terlihat oleh mata
oleh: Soleman Buraen

Beri Komentar